|
|

Public Relations:
Bangun Image Profesi
Melalui divisi
public relations (PR), IAI-KAP berkomitmen membangun opini profesi akuntan
publik yang sehat serta kondusif di tengah masyarakat. Selama ini, memang
diakui, informasi yang menyangkut profesi dinilai masih kurang pas menempatkan
persoalan akuntan publik.
Menginjak usia 26 tahun, yang bisa dibilang usia dewasa, IAI-KAP semakin
menunjukan eksistensinya sebagai organisasi akuntan publik yang profesional
dibawah IAI. Semangat membangun image dan citra profesi di tengah masyarakat
oleh kepengurusan periode 2003-2005, telah digalakan.
Minimal dengan dibentuknya divisi Public relations, masyarakat akan mendapat
informasi dan pemahaman yang benar akan peran dan jasa akuntan publik.
Tentunya informasi dan pemahaman yang tidak menyesatkan semua pihak, dibawah
kendali Public Relations IAI-KAP. Karena informasi yang keluar merupakan
kesamaan pandang baik dikalangan anggota maupun pengurus IAI-KAP dan IAI.
Itulah tugas yang tidak ringan yang harus dimainkan oleh divisi yang baru
lahir ini. Public Relations I, Hertanto, mengatakan isu yang kurang sedap
memang sering mampir ke akuntan publik. Penyebabnya tidak lain, pekerjaan
akuntan publik yang melekat dilaporan keuangan klien. Meski akuntan publik
telah bekerja sesuai dengan standar profesional dan standar etika yang
berlaku, tidak tertutup kemungkinan laporan keuangan klien mengandung
sumber masalah yang akhirnya membawa akuntan publik pada masalah, tambah
Hertanto.
Oleh karena itu, pengurus organisasi telah menyadari, IAI-KAP yang telah
mencapai kedewasaan organisasi lebih memilih menentukan reputasi profesi
akuntan publik sebagai cerminan perilaku. Untuk memastikan bahwa masyarakat
dan pihak yang terkait memahami benar akan peran dan tanggung jawab atas
jasa yang diberikan akuntan publik merupakan tugas PR IAI-KAP.
Untuk mencapai tujuan tersebut memang bukan hanya tugas PR semata, namun
prilaku dan sikap anggota juga harus memberikan nilai yang mampu menambah
image dan citra profesi di tengah masyarakat. Menyadari akan hal itu,
Jajaran Pengurus merasa perlu untuk memberikan cara-cara PR yang baik
bagi pengurus sendiri, anggota dan staf sekretariat.
Akhirnya Pengurus, demi menciptakan PR yang baik di profesi ini, menyewa
Konsultan PR guna memberikan pelatihan dan pengalaman Public relations
profesi yang baik di tengah masyarakat. Direncanakan seluruh anggota profesi
dan staf sekretariat IAI akan mendapat pelatihan serupa. Posisi saat ini
baru di tingkat pengurus IAI-KAP yang baru mendapat pelatihan sejak program
ini di canangkan.
Semua program yang dirancang tidak lain untuk menjaga reputasi profesi
akuntan secara keseluruhan. Tentunya dengan merencanakan, mengatur dan
mengkoordinasikan strategi dan berbagai program guna menciptakan iklim
opini yang kondusif di tengah masyarakat dan anggota profesi melalui media
massa yang ada. Semua itu diarahkan demi kelancaran hubungan yang lebih
baik antara profesi akuntan publik dengan masyarakat, regulator, dan asosiasi
profesi dan bisnis lainnya.
Minimal ada sepuluh petunjuk bagaimana merencanakan untuk Public relations
yang dapat digunakan organisasi sebagai kerangka kerja untuk memastikan
dana yang dikeluarkan memberikan hasil yang optimal. Yaitu menentukan
strategi, mendefinisikan tujuan, indentifikasi pendengar, menentukan prioritas,
menetapkan target, jadwal, merencanakan kampanye, menghadapi hal-hal tak
terduga, tanggap terhadap peluang, dan mengukur hasil . (AU)
|