Continuous Reporting Merubah Pakem Audit Tradisional

Posted on

Masa audit telah mengalami evolusi memasuki jasa assurance. Faktor penyebabnya tidak lain perubahan yang terjadi pada lanskap pelaporan keuangan menjadi pelaporan bisnis, perubahan teknologi informasi dan e-business, continuous reporting atau real time reporting, serta globalisasi hijau (bisnis ramah lingkungan).

Masalah tersebut diungkapkan Djohan Pinnarwan dalam Pendidikan Pelatihan Berkelanjutan (PPL) IAI-KAP yang membahas corporate reporting di Hotel Indonesia 20 Februari lalu.

Menurutnya sejak ditetapkan sistem double entry hingga kini, bidang akuntansi tidak banyak mengalami perubahan yang berarti. Akuntansi sebagai suatu sistem pertanggungjawaban mendorong akuntansi hanya mencatat peristiwa atau transaksi yang terjadi dengan jumlah moneter yang dapat diverivikasi. Dimana setiap aktiva berwujud yang dominan sebagai faktor produksi diakui sebagai aktiva di neraca dan dilakukan penyusutan sesuai dengan berlalunya waktu.

Anggota Dewan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) ini mengatakan dengan kemajuan bisnis dan teknologi, nilai bisnis lebih ditentukan oleh faktor yang tidak terwujud seperti ide, merek, cara kerja, dan jejaring. Faktor-faktor tersebut, ketika akuntansi diciptakan tidak signifikan, maka hal itu tidak pernah diakui sebagai aktiva dan sebagai beban periode berjalan.

Sementara adanya perubahan lingkungan tersebut tidak berdampak secara significant terhadap perubahan prinsip akuntansi yang ada. Hasilnya, menurut Djohan, laporan keuangan seperti puncak gunung es di lautan yang hanya kelihatan puncaknya (dalam wujud aktiva berwujud). Maka sebagian besar dari ketinggian gunung es yang sebenarnya (informasi mengenai aktiva tidak berwujud) tertutup oleh lautan. “Konsekuensinya terdapat perbedaan yang signifikan dari apa yang dilaporkan dalam laporan keuangan dengan nilai pasar perusahaan,” tegasnya.

Untuk menggambarkan besarnya perbedaan tersebut, Djohan mengambil contoh bisnis pengecer di internet yang sukses, Amazon.Com. sejak dimiliki publik, tahun 1997, Amazon belum pernah membukukan laba, namun kapitalisasi pasar mencapai US$ 17 miyar. Angka ini melebihi tingkat kapitalisasi pasar dari Sears, perusahaan pengecer terbesar di Amerika.

Peneliti di Amerika sendiri membuktikan bahwa rasio nilai pasar terhadap nilai buku menunjukan kecenderungan yang semakin meningkat dan hampir mencapai dua digit. Penelitian yang dilakukan Prof. Baruch Lev dari New York University, menunjukan selama dua puluh tahun terakhir, hubungan secara korelasi antara harga saham dengan beberapa variabel keuangan seperti laba bersih dan nilai buku atau arus kas telah menurun. Kesimpulan yang didapat mengindikasikan bahwa peranan informasi akuntansi guna proses pengambilan keputusan investor juga semakin menurun.

Munculnya kesenjangan informasi itu berdampak signifikan dalam bentuk volatilitas harga saham di pasar modal. Dimana pasar berusaha menilai saham pada kondisi minimnya informasi yang terungkap dalam laporan keuangan serta tingginya biaya modal. Pada kondisi minimnya informasi tersebut, para investor akan bertindak rasional melindungi resiko investasi dengan meningkatkan tingkat pengembalian investasinya.

Terhadap masalah yang terjadi, Djohan mengakui sebenarnya manajemen perusahaan telah menyadari adanya kesenjangan informasi antara apa yang dihasilkan oleh sistem akuntansi perusahaan dengan informasi yang dibutuhkan untuk pengelolaan bisnis dalam lingkungan yang telah berubah secara dramatis.

Oleh sebab itu, manajemen perusahaan lebih mengembangkan ukuran kinerja baru, seperti balanced scorecards, yang dirancang untuk mengarahkan perhatian pada aktivitas yang menghasilkan value dalam jangka panjang. Selain untuk mencapai keunggulan kompetitif, cara itu guna meraih pangsa dan pertumbuhan pasar, kepuasan komsumen, kepuasan dan kemampuan karyawan, kualitaas sistem pendukung, intellectual assets, inovasi, dan strategic goal.

Pelaporan bisnis ini, semakin mendorong manajemen untuk melaporkan informasi yang digunakan manajemen dalam pengelolaan bisnis kepada pihak luar. Trend yang akan terjadi faktor yang mendatangkan value bagi perusahaan menjadi bahan masukan guna pengambilan keputusan oleh investor. Dengan begitu, menurut Djohan, pelaporan bisnis tidak lagi seperti puncak gunung es di lautan yang hanya kelihatan puncaknya, sedangkan sebagian besar dari ketinggian gunung es yang sebenarnya tertutup oleh lautan. Informasi keuangan dari sistem pelaporan tradisional ibarat gunung es yang kelihatan, sedangkan informasi non keuangan merupakan ketinggian gunung es yang sebenarnya yang tertutup di bawah permukaan air laut. Dari situ muncul pertanyaan, bagaimana investor dapat menilai sesuatu yang tidak kasat mata?

Dengan begitu, adanya pelaporan bisnis, investor diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kemampuan perusahaan menghasilkan value. Tanpa disadari hasil akhir dari pelaporan bisnis mampu meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya pada bisnis yang tepat, efeknya memperkuat pasar modal yang tidak mudah bergejolak, cost of capital menurun, serta alokasi sumber dana dan eknomi menjadi efisien dan efektif.

Perkembangan Teknologi

Sementara dengan kemajuan teknologi informasi dan e-business, lingkungan bisnis global semakin didominasi oleh lalu lintas transaksi secara elektronik. Transaksi tersebut terselenggara melalui jalan raya elektronik berbantuan komputer dan jaringan telekomunikasi berkecepatan tinggi. Mulai dari produk barang dan jasa, berita, reservasi hotel, tiket pesawat, lowongan kerja, chating, sampai memesan hadiah untuk kekasih dapat diperoleh melalui situs dotcom.

Menurut hasil survey terhadap transaksi elektronik tersebut diperkirakan mengalami peningkatan seiring membaiknya fasilitas telekomunikasi. Sejalan Selain itu, perkembangan internet sendiri mendorong munculnya komunitas maya. Dalam komunitas ini, kepercayaan menjadi modal utama terjadinya transaksi secara elektronik. Guna menjamin kepercayaan tersebut, pihak independen yang dapat memberikan assurance atas kepercayaan ini sendiri turut mengalami perkembangan. Assurance ini bentuknya mulai dari assurance atas keandalan sistem yang berinteraksi dengan sistem informasi sampai assurance situs tersebut aman dari ganguan hacker.

Terhadap perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi, memungkinkan perusahaan memanfaatkan fasilitas tersebut guna memberikan informasi yang bersifat keuangan maupun non keuangan kepada stakeholder-nya. Seperti diungkap oleh sebuah survey, perusahaan di Amerika yang masuk dalam Fortune 150 telah menyajikan pengungkapan keuangan di internet. Pelaporan secara elektronik ini mengubah “pakem” pelaporan yang dikenal selama ini.

Culture baru ini telah mengubah bentuk informasi yang diungkapkan. Informasi keuangan dapat dibuat dalam bentuk multimedia dengan menggunakan voice, sound dan video. Ke depan, melalui internet, kejadian penting seperti rapat pemegang saham atau pertemuan analis dapat disaksikan secara langsung. Penggunaan teknologi ini sangat memungkinkan baik penyusun dan pengguna informasi bisnis dan keuangan dapat berinteraksi dua arah melalui berbagai media. Contohnya melalui chatting, e-mail untuk memperoleh informasi penyajian frequenly asked questions di internet.

Sejalan dengan masalah tersebut, sistem interaktif di internet membuat konsep laporan keuangan secara periodik menjadi usang. Dimana teknologi informasi mampu memperpendek interval waktu yang diperlukan guna menyelesaikan berbagai langkah penting dalam bisnis. Kemajuan teknologi tersebut membuat siklus pelaporan bisnis menjadi pendek serta menjadi kesinambungan (continuous) dan real time reporting.

Perkembangan ini semakin pesat karena mendapat dukungan pengembangan suatu platform baru yakni XBRL (extensible business reporting language). XBRL ini sangat dimungkinkan informasi keuangan dikompilasi dalam tempo singkat dan disajikan dalam ragam bentuk penyajian. Informasi keuangan dapat diekstrak oleh kreditur, analis, maupun investor dalam tempo singkat dan andal.

Namun platform yang ada yakni HTML, fungsinya masih berfokus pada mesin faksimil yang mengirim dokumen dan lebih fokus pada penampilan. Dengan menggunakan XBRL laporan keuangan, data operasional, analisis dan pembahasan umum oleh manajemen, dan informasi lain yang akan dikomunikasikan perusahaan diberi kode dan label dalam bahasa sederhana, baik angka maupun teks dapat memanfaatkan kode ini.

Dengan kode universal memungkinkan perusahaan dan pihak lain menyusun, bertukar dan menganalisis informasi perusahan secara konsisten dan informasi tersebut memungkinkan untuk diekstrak oleh dan ditransfer ke berbagai jenis aplikasi piranti lunak. Informasi mulai dari nama perusahaan, negara asal, sektor industri, tahun akan menyertai kode tersebut sehingga setiap data dapat diidentifikasi secara khusus.

Revolusi Hijau

Selain masalah di atas, adanya globalisasi telah menyadarkan masyarakat terhadap dampak beroperasinya perusahaan multinasional pada kondisi sosial dan lingkungan. Globalisasi ini bagai pedang bermata dua, di satu sisi ada kesempatan bagi multinasional beroperasi lintas batas, di lain sisi berita kurang sedap cepat menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Hikmah yang dapat dipetik dari berbagai kasus, selain tujuan memperoleh laba, perusahaan dituntut bertanggung jawab terhadap kondisi sosial dan lingkungan hidup. Meski bisnis tidak melanggar kaidah hukum, akibat kurang memperhatikan stakeholder, perusahaan bisa kehilangan pendapatan dan mungkin harga saham menurun serta reputasi perusahaan anjlok. Reputasi perusahaan dalam hal sustainability menjadi sangat penting dalam hubungan perusahaan dengan stakeholder-nya.

Prinsip sustainability perusahaan yang diterjemakan dalam strategi dan operasi perusahaan. Jika semua aspek perusahaan dijiwai prinsip sustainability, perusahaan harus mengkomunikasikan hal itu kepada stakeholder. Khususnya kepada para investor dalam bentuk pelaporan yang mencakup tiga aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Pelaporan ini lebih dikenal triple bottom line reporting.

 

Pakem Audit Berubah

Menyikapi perkembangan yang terjadi dengan continuous reporting/auditing, pengendalian intern yang utama bersifat preventif pencegahan terjadinya salah saji. Pengendalian detektif bekerja secara otomatis untuk menemukan salah saji segera setelah proses transaksi. Review output secara manual yang efektif dalam lingkungan audit tradisional menjadi kehilangan keampuhannya dalam lingkungan Continuous reporting/auditing.

Untuk itu, proses audit berkesinambungan ini mengarah pada audit sistem dan proses menghasilkan informasi yang terdapat dalam pelaporan keuangan persuahaan. Pada titik ini audit berkesinambungan akan mengubah pakem audit tradisional yang kita kenal menjadi suatu bentuk assurance terhadap proses dari pengelolaan informasi keuangan perusahaan.

Sebagai media komunikasi-adanya keterpisahkan antara manajemen dan investor-mendorong laporan keuangan berevolusi menjadi pelaporan bisnis. Sementara akuntan publik sebagai pihak yang independen memiliki peran yang amat strategis dalam memberikan assurance, dimana pelaporan bisnis berisi informasi yang andal guna pengambilan keputusan investasi.

Sementara, adanya perubahan pola pelaporan dari periodik menjadi real time reporting-telah memaksa profesi akuntan untuk memikirkan kembali bagaimana auditor mengaudit laporan perusahaan. Penugasan audit yang bersifat periodik berkembang menjadi audit berkesinambungan. Disini bukan berarti auditor bekerja lembur dalam proses audit di selesaikan lebih cepat dengan melakukan verifikasi terus menerus sepanjang periode terjadinya transaksi.

Selain itu, guna meningkatkan kredibilitas triple bottom line reporting dimata stakeholder, mau tidak mau perusahaan memerlukan pihak ke tiga untuk memberikan “verifikasi”. Dalam kontek inilah, pihak independen sebagai pemberi assurance atas triple bottom line reporting dibutuhkan.